<?xml version="1.0"?>
<oai_dc:dcCollection xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/ http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
  <oai_dc:dc>
    <dc:title xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Tanah yang terjajah /</dc:title>
    <dc:creator xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
   Qabbani, Nizar
  </dc:creator>
    <dc:creator xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
   Musyfiqur Rahman
  </dc:creator>
    <dc:creator xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
   Muhammad Ali Fakih
  </dc:creator>
    <dc:type xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">text</dc:type>
    <dc:publisher xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Yogyakarta : DIVA Press,</dc:publisher>
    <dc:date xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">2021</dc:date>
    <dc:language xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">ind</dc:language>
    <dc:description xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Selama tiga dekade akhir masa hidupnya, Nizar Qabbani begitu intens menulis sajak-sajak politik. Pada periode ini, sajak-sajaknya berhasil mencetak dirinya menjadi "politisi" dalam arti yang lain. Sebagai pribadi yang independen, ia memang tak memiliki afiliasi ke partai politik mana pun. Namun, sebagai seorang "politisi dalam puisi", ia selalu hadir sebagai oposisi. Lawan-lawan politiknya bukan satu rezim saja, tetapi seluruh penguasa Arab, terutama penguasa yang anti-kritik, membungkam kebebasan, dan tak pernah berupaya sungguh-sungguh untuk terlibat dalam pembebasan saudara saudara Arab lain yang masih terjajah: Palestina. Oleh sebab itu, saya pilih dari penggalan judul puisi Nizar "Para Penyair di Tanah yang Terjajah" sebagai judul buku ini.</dc:description>
    <dc:description xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Judul Asli: Al-A'mal as-siyasah as-Kamilah</dc:description>
    <dc:description xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Selama tiga dekade akhir masa hidupnya, Nizar Qabbani begitu intens menulis sajak-sajak politik. Pada periode ini, sajak-sajaknya berhasil mencetak dirinya menjadi "politisi" dalam arti yang lain. Sebagai pribadi yang independen, ia memang tak memiliki afiliasi ke partai politik mana pun. Namun, sebagai seorang "politisi dalam puisi", ia selalu hadir sebagai oposisi. Lawan-lawan politiknya bukan satu rezim saja, tetapi seluruh penguasa Arab, terutama penguasa yang anti-kritik, membungkam kebebasan, dan tak pernah berupaya sungguh-sungguh untuk terlibat dalam pembebasan saudara saudara Arab lain yang masih terjajah: Palestina. Oleh sebab itu, saya pilih dari penggalan judul puisi Nizar "Para Penyair di Tanah yang Terjajah" sebagai judul buku ini.</dc:description>
    <dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Puisi--Kumpulan</dc:subject>
    <dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Puisi Mesir</dc:subject>
    <dc:identifier xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">URN:ISBN:978-623-293-166-4</dc:identifier>
  </oai_dc:dc>
</oai_dc:dcCollection>
