<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<modsCollection xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-5.xsd">
  <mods version="3.5">
    <titleInfo>
      <title>Lontar hadis dagang</title>
      <subTitle>kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW berdagang dalam larik-larik tembang</subTitle>
    </titleInfo>
    <name type="personal" usage="primary">
      <namePart>Wiwin indiarti</namePart>
    </name>
    <typeOfResource>text</typeOfResource>
    <originInfo>
      <place>
        <placeTerm type="text">Banyuwangi</placeTerm>
      </place>
      <publisher>Dinas Perpustakaan dan Keasipan Kabupaten Banyuwangi</publisher>
      <dateIssued>2021</dateIssued>
      <edition>cet. 1</edition>
      <issuance/>
    </originInfo>
    <language>
      <languageTerm authority="iso639-2b" type="code">ind</languageTerm>
    </language>
    <physicalDescription>
      <form authority="marccategory">text</form>
      <form authority="marcsmd">regular print</form>
      <extent>xviii, 242 hlm. ; 25 cm.</extent>
    </physicalDescription>
    <abstract type="Summary">Indeks: hal. 175-178</abstract>
    <tableOfContents>Buku ini menyuguhkan bukti bahwa nilai-nilai luhur agama dalam manuskrip dapat dilestarikan dengan cara merawat ritual budaya, seperti Mocoan Lontar Hadis Dagang yang dipraktikkan masyarakat Banyuwangi. Bagi filolog, buku ini dapat menjadi rujukan dan contoh yang baik, bagaimana sebuah kajian teks akan lebih “hidup” ketika dilekatkan dengan konteks masyarakat yang melahirkannya. ontar Hadis Dagang merupakan warisan intelektual, literasi, dan budaya yang tetap hidup fungsional dalam komunitas masyarakat. Di samping itu, ia juga menggambarkan naratif puitis tentang pergumulan dan penyerbukan budaya di suatu tempat yang kini bernama Banyuwangi. 4 Bacalah, Anda akan mendapat gambaran daya adaptasi dan agilitas sebuah tradisi Banyuwangi.Lontar Hadis Dagang merupakan salah satu wujud akulturasi Islam dan budaya lokal yang berjalan sedemikian halus. Sesuatu yang kini kita dambakan. Namun kita prihatin dengan makin sedikitnya masyarakat mengapresiasi naskah kuno ini. Tinggal satu keluarga yang menyimpan dan menghidupkan tradisi pembacaannya. Maka yang dilakukan Mbok Wiwin Indiarti dan Mas Anasrullah mentransliterasi dan menerjemahkan manuskrip kuno di Banyuwangi ini sangat penting. Mengangkat naskah kuno ke ranah akademik dan mendekatkan naskah kuno dengan perkembangan kekinian.</tableOfContents>
    <note type="statement of responsibility" altRepGroup="00">Wiwin indiarti, Anasrullah;Penyunting, Yusup khoiri</note>
    <note type="bibliography">Bibliografi: hal. 169-174</note>
    <subject>
      <topic>Manuskrip</topic>
    </subject>
    <subject>
      <topic>Kajian</topic>
    </subject>
    <classification authority="ddc">091.072</classification>
    <classification authority="">091.072 WIW l</classification>
    <identifier type="isbn">978-623-95161-2-3</identifier>
    <recordInfo>
      <recordCreationDate encoding="marc">220113</recordCreationDate>
      <recordChangeDate encoding="iso8601">20220113121936</recordChangeDate>
      <recordIdentifier>INLIS000000000694096</recordIdentifier>
      <recordOrigin>Converted from MARCXML to MODS version 3.5 using MARC21slim2MODS3-5.xsl
				(Revision 1.106 2014/12/19)</recordOrigin>
    </recordInfo>
  </mods>
</modsCollection>
