<?xml version="1.0"?>
<oai_dc:dcCollection xmlns:oai_dc="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xsi:schemaLocation="http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc/ http://www.openarchives.org/OAI/2.0/oai_dc.xsd">
  <oai_dc:dc>
    <dc:title xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Tawaf bersama rembulan /</dc:title>
    <dc:creator xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
   Muhammad Subarkah
  </dc:creator>
    <dc:creator xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
   Editor : Muhammad Iqbal Santosa
  </dc:creator>
    <dc:type xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">text</dc:type>
    <dc:publisher xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Jakarta : Republika Penerbit,</dc:publisher>
    <dc:date xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">2020</dc:date>
    <dc:language xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">   </dc:language>
    <dc:description xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Bagaimana orang Indonesia tempo doeloe melaksanakan ibadah haji? Betulkah Pangeran Diponegoro sangat berkeinginan untuk pergi ke Tanah Suci? Mengapa para raja di zaman dulu dan para politisi di masa kini menjadikan Mekah sebagai legitimasi? Lalu, ada apa di balik gelar haji? Mengapa kedudukan mereka di masyarakat begitu tinggi? Lewat penulusuran yang panjang, penulis menghadirkan jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas lewat cerita soal haji, dari dulu hinggi kini. Kita diajak ke masa lalu, dan membayangkan betapa susahnya perjuangan orangtua kita berziarah ke Tanah Suci. Tidak lupa juga disampaikan kondisi Arab Saudi terkini, yang terus berbenah menyambut tamu Allah dari berbagai penjuru negeri. Ibadah haji memang memiliki kedudukan yang penting dan istimewa di hati umat Islam dari dulu, kini, dan nanti.</dc:description>
    <dc:description xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Bibliografi : halaman 363-364</dc:description>
    <dc:description xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Bagaimana orang Indonesia tempo doeloe melaksanakan ibadah haji? Betulkah Pangeran Diponegoro sangat berkeinginan untuk pergi ke Tanah Suci? Mengapa para raja di zaman dulu dan para politisi di masa kini menjadikan Mekah sebagai legitimasi? Lalu, ada apa di balik gelar haji? Mengapa kedudukan mereka di masyarakat begitu tinggi? Lewat penulusuran yang panjang, penulis menghadirkan jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas lewat cerita soal haji, dari dulu hinggi kini. Kita diajak ke masa lalu, dan membayangkan betapa susahnya perjuangan orangtua kita berziarah ke Tanah Suci. Tidak lupa juga disampaikan kondisi Arab Saudi terkini, yang terus berbenah menyambut tamu Allah dari berbagai penjuru negeri. Ibadah haji memang memiliki kedudukan yang penting dan istimewa di hati umat Islam dari dulu, kini, dan nanti.</dc:description>
    <dc:subject xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">Haji - Manasik haji - Biografi sebagai bentuk sastra</dc:subject>
    <dc:identifier xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">URN:ISBN:978-623-7458-41-8</dc:identifier>
  </oai_dc:dc>
</oai_dc:dcCollection>
