<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<modsCollection xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-5.xsd">
  <mods version="3.5">
    <titleInfo>
      <title>Tafakkur dalam kepandiran</title>
      <subTitle>manusia makhluk yang suka menyalahkan dri luar, tidak menyadari kesalahan itu dari dalam</subTitle>
    </titleInfo>
    <name type="personal" usage="primary">
      <namePart>Mohamad Fatkhurohman</namePart>
    </name>
    <typeOfResource>text</typeOfResource>
    <originInfo>
      <place>
        <placeTerm type="text">Wonosobo</placeTerm>
      </place>
      <publisher>Biti Djaya</publisher>
      <dateIssued>2021</dateIssued>
      <issuance/>
    </originInfo>
    <physicalDescription>
      <form authority="marccategory">text</form>
      <form authority="marcsmd">regular print</form>
      <extent>133 hlm ; 20,5 cm</extent>
    </physicalDescription>
    <abstract type="Summary">Saya meyakini, jika ada seseorang yang berstatus sebagai seorang dosen tetapi dia menganggap strata sosialnya lebih tinggi dari seorang guru di PAUD, TK, SD, SMP, SMA dan sekolah yang sederajat, maka dia sudah menderita 3 macam penyakit: 1) Gegar Strata Sosial dan termasuk jenis pemuja status sosial; 2) Buta dengan UU Sisdiknas; 3) Buta dengan sejarah. Pengamatan saya menunjukkan, Pertama; orang yang seperti itu akan terjebak pada stratifikasi sosial, eksklusifitas dan etnosentrisme dan sangat bangga dengan gelar yang berderet-deret di belakang namanya. Kedua, Saya ragu kalau dia paham dengan UU Sisdiknas. Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Bab | Pasal 1 ayat 6 menggunakan istilah Pendidik di semua jenjang termasuk pendidikan tinggi. Ketiga; Sangat mungkin dia tidak paham dengan sejarah. Dilihat dari uraian sejarah yang sedikit diuraikan dalam buku ini, magister dan doktor bermakna sama, yaitu guru. Untuk beberapa kalangan, Gelar Magister dan Doktor telah berubah dari panggilan kepada guru menjadi semacam jimat yang membuat penyandangnya menjadi anggota kaum "tak tersentuh".&#13;
&#13;
Buku ini memuat kejadian-kejadian sehari-hari yang sering ditemui, dikemas dengan cerita yang seolah-olah tidak melukiskan kejadian itu sendiri. Ilham dari lahirnya buku ini berasal dari hal-hal yang Penulis temui sehari-hari disandingkan dengan tulisan-tulisan Professor Andi Hakim Nasoetion (almarhum), Emha Ainun Najib (Cak Nun), "Bung" M. Kusnaeni (di Tabloid Sportif) dan Gayeng Semarang (Suara Merdeka Edisi Minggu). Sesungguhnya tulisan beliau-beliau sekalipun ditulis beberapa dekade lampau, tetaplah bermakna monumental dan sesuai dengan kondisi terkini</abstract>
    <note type="statement of responsibility" altRepGroup="00">Mohamad Fatkhurohman</note>
    <subject>
      <topic>Cerita pendek Indonesia - Kumpulan</topic>
    </subject>
    <classification authority="ddc">899.221 301</classification>
    <classification authority="">899.221 301 MOH t</classification>
    <identifier type="isbn">978-623-6900-05-5</identifier>
    <recordInfo>
      <recordContentSource authority="marcorg">JIPUBAY</recordContentSource>
      <recordCreationDate encoding="marc">240621</recordCreationDate>
      <recordChangeDate encoding="iso8601">20240621091532</recordChangeDate>
      <recordIdentifier>INLIS000000000696926</recordIdentifier>
      <recordOrigin>Converted from MARCXML to MODS version 3.5 using MARC21slim2MODS3-5.xsl
				(Revision 1.106 2014/12/19)</recordOrigin>
    </recordInfo>
  </mods>
</modsCollection>
