<?xml version="1.0"?>

 <rdf:Description xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
  <dc:title>Belum haji sudah mabrur : kisah-kisah sufistik haji /</dc:title>
  <dc:creator>
   Mokh. Syaiful Bakhri
  </dc:creator>
  <dc:creator>
   Disain Cover : Daydia
  </dc:creator>
  <dc:creator>
   Disain Artistik Isi : Abu Fathimah
  </dc:creator>
  <dc:creator>
   Editor : Wakhid Nur E
  </dc:creator>
  <dc:type>text</dc:type>
  <dc:publisher>Jakarta : Indocamp,</dc:publisher>
  <dc:date>2018</dc:date>
  <dc:language>   </dc:language>
  <dc:description>Bibliografi : halaman 117-118</dc:description>
  <dc:description>Kisah-kisah sufistik haji pada buku ini menjelajahi secara mendalam hakikat (dimensi esoteris) ibadah haji melalui pengalaman dan penghayatan spiritual tokoh-tokoh sufi semcam Imam Ali Zaynal Abidin, al-Syibli, al-Junayd, Sufyan al- Tsawri, Abdullah bin Mubarak, Abu Yazid al-Busthami, Ibrahim al-Wasithi, dan Fudhayl bin Ayyadh.&#13;
&#13;
Melalui kisah "Kembalilah! Kembalilah!" dan kisah "Sudah Haji Namun Belum Berhaji", Imam Ali Zaynal Abidin dan al- Junayd mengingatkan mereka yang sudah berhaji, apakah ibadah hajinya benar-benar telah memperhatikan amalan-amalan hakikinya?&#13;
&#13;
Bila tidak, hakikatnya mereka belum menunaikan haji!&#13;
&#13;
Sedangkan pada kisah "Belum Haji Sudah Mabrur", Abdullah bin Mubarak menunjukkan bahwa predikat "mabrur" tidak semata-mata diberikan kepada seorang yang telah berhaji. Tapi, diberikan juga kepada orang yang sebenarnya hanya "berhaji" sebatas pintu rumah, namun Allah menganugerahinya derajat "haji mabrur". Apakah rahasianya?</dc:description>
  <dc:subject>Haji</dc:subject>
  <dc:identifier>URN:ISBN:978-979-020-388-4</dc:identifier>
</rdf:Description>

